Apasih PAUD ABK & Pendidikan Inklusi itu??


PENDIDIKAN ANAK  USIA DINI BERKEBUTUHAN KHUSUS
 Pengertian
            Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pengembangan manusia yang utuh dimulai sejak anak dalam kandungan dan memasuki masa keemasan atau “golden age”. Pada masa keemasan (golden age) seorang anak terjadi transformasi yang luar biasa pada otak dan fisik, tetapi sekaligus masa rapuh. Oleh karena itu, masa keemasan ini sangat penting bagi perkembangan intelektual, emosi, dan sosial anak dimasa datang dengan memerhatikan dan menghargai keunikan setiap anak.
Adapun anak luar biasa didefinisikan sebagai anak-anak yang berbeda dari anak-anak dalam hal ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, kemampuan komunikasi, tingkah laku sosial, ataupun ciri-ciri fisik. Menurut Kirk (1989), anak-anak hanya dianggap sebagai anak-anak luar biasa apabila memiliki kebutuhan untuk menyesuaikan program pendidikan. Ini akibat dari keadaan mereka tersebut menyebabkan mereka tidak dapat menerima pelajaran dengan cara yang biasa dan menempat mereka tidak dapat menerima pelajaran dengan cara biasa, dan menenmpatkan mereka dalam barisan depan kelas hanya akan membuat mereka bosan.
            Adapun ciri-ciri anak yang mengalami gangguan perkembagan menurut Ratih Zinmer Gandasetiawan sebagai berikut :
1.      Terlalu pasif
2.      Terlalu cengeng
3.      Menangis bila ditengkurapkan
4.      Sulit menelan makanan
5.      Menangis bila diayun
6.      Tidak mengoceh, juga terlihat tidak ceria.
Dasar Hukum
           Komitmen Jomtien Thailand (1990), pendidikan untuk semua orang, sejak lahir samapi akhir tua.
·         Deklarasi Dakkar (2000)
·         “Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini secara komprehensif terutama yang sangat rawan dan terlantar”.
·         Pada tahun 1975 Undang-Undang Publik (Public low) 94-142 yang menghendaki setiap negara untuk meyediakan akses program pendidikan gratis untuk anak-anak istimewa yang berumur 3-18 tahun.
·         Pasal 131 ayat (1): Pemerintah provinsi meneyelenggaarakan paling sedikit satu satuan pendidikan khusus untuk setiap jenis kelamin dan jenjang pendidikan sebagai model sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
·         Pasal 133 ayat (1): satuan pendidikan khusus formal bagi peserta didik berkelainan untuk pendidikan anak usisa dini berbentuk taman kanak-kanak luar biasa atau sebutan lain untuk satuan pendidikan sejenis atau sederajat.
Pentingnya PAUD
1. PAUD sebagai titik sentral strategi pembangunan SDM dan sangat fundamental,
2. PAUD memegang peranan penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya,
3. Anak yang mendapatkan pembinaan sejak dini akan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental yang berdampak pada prestasi belajar,
4. Merupakan masa golden age,
5. Cerminan diri untuk melihat keberhasilan anak di masa mendatang.
 Kondisi yang Mempengaruhi Anak Usia Dini
Ada 2 faktor yang mempengaruhi anak usia dini, yaitu :
1. Faktor bawaan, faktor yang diturunkan dari kedua orangtuanya, baik bersifat fisik maupun psikis
2. Faktor lingkungan:
·         Lingkungan dalam kandungan
·         Linkungan diluar kandungan, lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, dll.
Memahami Karakteristik PAUD
1. Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak,
2. Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat seuai dengan kebutuhannya,
3. Menaruh harapan dan tuntuta terhadap anak secara realistis,
4. Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan kemampuannya.
Memahami Karakteristik ABK
1. Anak dengan cacat fisik
         Cacat fisik dapat disebabkan oleh masalah ortopedik, cacat genetic, disfungsi otak, dan kerusakan istem saraf pusat. Yang paling umum adalah kerusakan motoric seperti cerebral palsy. Anak degan cerebral palsy dapat mengganggu perkembangannya, namun bukan berarti anak dengan gangguan fisik maka mentalnya juga akan terganggu. Yang dapat dilakukan guru adalah dengan membantu anak berkebutuhan khusus beradaptasi dengan peralatan baru. Penting untuk membuat anak berkebutuhan khusus merasa bebas dan terlibat sebisa mungkin dengan meletakkan peralatan di tempat yang dapat mereka jangkau, membuat tempat yang memungkinkan untuk anak berkebutuhan khusus yang menggunakan kursi roda dan menyesuaikan aktivitas yang sedang berlangsung untuk memfasilitasi keterlibatan mereka sebanyak mungkin.
2. Anak dengan gangguan kognitif
       Anak dengan gangguan kognitif diklasifikasikan sebagai slow learner, atau retardasi mental 
mampu didik, dapat dimanfaatkan dengan program inklusi. Anak dengan ganguan kognitif memiliki 
masalah dengan memori dan atensi (Dainer, 1999). Kegiatan-kegiatan yang sesuai untuk mereka adalah 
aktivitas yang tidak memerlukan modalitas sensor, yang melibatkan banyak aktivitas motorik, 
memperkuat konsep dengan tindakan dan lingkungan yang tidak terlalu merangsang dan merusak akan 
membantu anak focus pada kegiatan yang dilakukan.
3. Anak dengan gangguan belajar
     Learning disabilities mempengaruhi proses belajar. Attention Deficit Disorder (ADD),  
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) berasosiasi dengan learning disabilities. 
Masalah yang mereka miliki adalah tentang memproses informasi Karena mereka sulit untuk 
memusatkan perhatian.
4. Anak dengan gangguan penglihatan
     Anak dengan gangguan penglihatan tingkat mild dan moderate dapat berfungs dengan baik 
dalam program regular, sedangkan anak dengan gangguan penglihatan parah (sevire) akan 
memerlukan bantuan khusus. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk memaksimalkan 
keterlibatan anak dengan gangguan penglhatan untuk belajar. Setiap kata dan konsep baru harus 
diasosiaskan dengan sentuhan, benda-benda disekitar anak sebaiknya tidak berbahaya agar tidak 
melukai anak.
5. Anak dengan gangguan emosi dan perlaku
     Anak butuh petunjuk yang positif untuk membantu mereka secara bertahap mengembangkan 
pengendalian diri dan memperoleh keterampilan sosial dan sikap yang sesuai dengan orang lain.
6. Anak dengan masalah kesehatan
     Anak dengan masalah kesehatan akan sering absen dari sekolah dan tugas guru adalah dengan 
memberikan kenyamanan dan pengertian kepada anak ketika mereka kembali masuk sekolah, guru 
harus dapat membuat anak merasakan kembali bahwa ia adalah bagian dari kelas tesebut dan ketika 
seorang anak absen guru dapat mengajak anak-anak lainnya untuk saling bertukar pesan kepada 
teman yang sakit dan menanyakan keadaannya.
7. Anak berbakat
     Anak berbakat adalah anak dengan kemampuan inteligensi dan keatifitas diatas anak rata-rata 
seusianya. Anak berbakat ini juga termasuk kedalam anak dengan kebutuhan khusus yang mana ia 
juga memerlukan perlakuan yang khusus. Anak berkebutuhan kusus gemar bermain dengan ide-ide 
mereka, dapat memecahkan masalah lebih baik, memiliki solusi-solusi yang tidak bisa untuk anak 
seusianya, mereka dapat menyerap pelajaran dengan jauh lebih cepat. Yang perlu dilakukan guru 
adalah mendengarkan dan menerima reaks mereka, memberikan saran-saran praktis. Karena mereka 
menyerap sesuatu dengan cepat sebaiknya berikan mereka pengalaman yang lebih menantang dan 
bermanfaat yang dapat membantu mereka mengembangkan sikap positif mereka terhadap sekolah 
dan belajar.
Menurut Kauffman da Hallahan (2005: 18-45) anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru dalam Bandi Delphie, antara lain sebgai berikut :
·         Anak Tunagrahita atau Disebut sebagai Anak dengan Hendaya  Perkembangan
Ciri- cirinya meliputi hal-hal sebagi berikut:
a)      Mempunyai dasar secara fisiologis, sosial, dan emosional
b)      Selalu bersifat eksternal locus of control
c)      Suka meniru perilaku yang benar dari orang lain
d)     Mempunyai perilaku yang tidak dapat mengatur diri sendiri
e)      Mempunyai maslah yang  berkaian dengan karakteristik
f)       Mempunyai masalah dalam bahasa dan pengucapan
g)      Mempunyai maslah dalam kesehatan fisik
h)      Kurang mampu untuk berkomunikasi
·         Kesulitan Belajar atau Anak Yang Berprestasi Rendah
Penyebab anak mengalami kesulitan belajar yaitu gangguan depresi, brain injury disfungsi minimalotak, disleksia, dan afasia perkembangan. Individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang, serta mengalami keterlambatan perkembangan konsep.
·         Tunarungu Wicara
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran permanen maupun temporer. Cara berkomunikasi dengan individu tunarungu menggunakan bahasa isyarat melalui abjad jari telah dipatenkan secara internasional.
·         Hiperaktive
Gejala-gejala “kelainan” dari anak hiperaktif antara lain inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Anak-anak hiperaktif memerlukan suatu pelayanan dengan cara pemberian intervensi dengan terapi farmakologi dikombinasikan dengan terapi perilaku. Adapun ciri-ciri yang ditunjukan oleh anak hiperaktif, yaitu :
a. Sering mengganggu teman-teman dikelasnya
b. Suka berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya
c. Sering berjalan-jalan dan tidak mau diam
d. Mempunyai kesulitan untuk berkonsentrasi dlam tugas sekolah
e. Kurang memberi perhatian orang lain berbicara
f. Tidak mampu menulis surat
g. Sulit mengikuti perintah lebih dari satu pada saat yang bersamaan
·         Tunanetra
Kouman dan Hallahan mendefinisikan makna tunanetra sebagai individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbatasan dalam indra penglihatan, maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain, yakni indra peraba dan indra pendengaran.
·         Tunalaras
Definisi bower (1981) menyatakan bahwa anak dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku, apabila ia menunjukkan adanya satu atau lebih dari komponen berikut ini:
a.       Tidak mampu belajar bukan disebbakan karen faktor intelektual
b.      Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman dan guru
c.       Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya
d.      Mereka dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan/depresi
e.       Bertendensi ke arah symtomps fisik
·         Tunarungu Wicara
Ciri-ciri hambatan perkembangan bahasa dan komunikasi antara lain :
1.      Kurang memperhatikan saat guru memberikan pelajaran dikelas
2.       Sumber bunyi
3.      Mempunyai kesulitan mengikuti petunjuk secara lisan
4.      Keengganan untuk berpartisipasi secara oral
5.      Adanya ketergantungan terhadap petunjuk
6.      Mengalami hambatan dalam perkembangan bahsa dan bicara
7.      Perkembangan intelektual terganggu
8.      Mempunyai kemampuan akdemik yang rendah
·         Karakteristik Anak Austistik
Autism syndrome merupakan gangguan yang disebabkan karena ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Ciri-cirinya menurut Delay & Deinaker (1952), dan Marholin & Philips (1976),  antara lain:
1.      Senang tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri tampang tak acuh
2.      Selalu diam sepanjang waktu
3.      Jika ada pertanyaan kemudia anak tersebut menjawab dengan nada monoton
4.      Tidak pernah bertanya
5.      Tidak tampak ceria
6.      Tidak peduli terhadap lingkungan
Perincian tentang kelainan anak autis sebagai berikut:
1.      Kelainan berbicara
Keterlambatan serta penyimpangan dalam berbicara menyebabkan anak autistik sukar berkomunikasi serta tidak mampu memahami percakapan orang lain.
2.      Kelainan fungsi saraf dan intelektual
Mereka tergolong tidak mempunyai kecakapan untuk memahami benda-benda abstrak atau simbolik.
3.      Perilaku yang ganjil
Anak austistik akan mudah sekali marah apabila ada perubahan yang dilakukan pada situasi atau lingkungan tempat ia berada, walau sekecil apapun. Mereka sangat bergantung pada sesuatu yang khas bagi dirinya.
4.      Interaksi sosial
Kehidupan sosial anak autistik selalu aneh dan terlihat seperti orang yang selalu sakit. Autisme dalam Diagnostic and Stastical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan di bawah payung PDD (Pervasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorders). Gangguan perkembangan perpasif adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan dibawah PDD, yaitu :
1.  Autistic Disorder. Muncul sebelum usia tiga tahun dan ditunjukkan adanaya hambatan dalam interaksi sosial,
2. Asperger’s syndrome. Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas
3. Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified. Berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosis tertentu.
4. Rett’s Syndrome. Lebih sering terjadi pada anak perempan daripada laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran kemampuan yang dimilikinya.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD). Menunjukkan perkembangan yang normal selam 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian kehilangan kemampuan yang dicapai sebelumnya.



Pendidikan Inklusi
Pendidikan inklusi adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil. 
Pendidkan inklusi termasuk hal yang baru di Indonesia. Ada beberapa pengertian mengenai pendidikan inklusi, diantaranya pendidikan nklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatanyang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi enuh dalam pendidikan. Hambatan yang ada bisa terkait dengan masalah etnik, gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain. Pendidikan inklusi diselenggarakan berdasarkan semangat untuk membangun sistem masyarakat inklusif, yakni sebuah tatanan kemasyarakatan yang saling menghargai dan menghormati keberagaman. Dengan demikian, penyelenggaraan pendidikan masyarakat inklusif, yakni sebuah tatanan kemasyarakatan yang saling menghargai dan menghormati keberagaman.
Pendidikan inklusif dikembangkan berdasarkan keyakinan findamental bahwa setiap individu dapat belajar, berkembang, tumbuh, dan bekerja dengan semua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda disekolah, lingkungan kerja, dan masyarakat. Pendidikan inklusif adalah wujud nyata komitmen penyediaan kesempatan belajar bagi semua anak, remaja dengan berfokus pada individu yang tergolong minoritas, terpinggirkan dan tidak terperhatikan.
Sebagian individu yang tergolong minortas, terpinggirkan, dan belum terperhatikan adalah mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti individu yang mengalami hambatan fisik, mental-intelektual, sosial, emosi, berbakat, kesulitan belajar, autisme, gangguan konsentrasi dan hiperaktif. Kelompok anak berkebutuhan khusus lainnya yang tidak diperhatikan seperti anak jalanan dan pekerja, anak yang berasal dari populasi terpencil atau yang berpindah-pindah, anak dari kelompok etnis minoritas, linguistik atau budaya dan anak-anak dari kelompok kurang beruntung atau dimarginalkan.
Pendidikan inklusif selayaknya merangkul prang-orang yang tertinggalkan itu untuk dapat mengenyam pendidikan yang berkualitas. Pendidikan inklusif diharapkan dapat membuat sesuatu yang tidak terlihat, yang tidak terperhatikan  dan yang tidak terlayani menjadi berharga dan yang tersisih menjadi dapat berprestasi.
Tujuan


Pendekatan untuk mencari cara bagaimana mengubah sistem pendidikan guna menghilangkan hambatan yang menghalangi siswa untuk terlibat secara penuh dalam pendidikan.

Dari persoalan informasi yang masih sangat minim untuk diperoleh, baik mengenai pentingnya PAUD bagi ABK ditambah dengan jumlah sekolahnya yang masih sedikit, memang akhirnya belum bisa memfasilitasi seluruh kebutuhan dari anak berkebutuhan khusus, terutama untuk pendidikan usia dini.
Pentingnya PAUD bagi ABK adalah semakin cepatnya ABK mendapat pendidikan maka semakin cepat pula ‘delay waktu’ yang tertentang antara kesetaraan ABK dan ‘anak normal’ semakin kecil. Sehingga ABK nantinya bisa mengembangkan intelektual, emosi dan sosial semaksimal mungkin.  Namun sayangnya sistem pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keberagaman, sehingga menyebabkan munculnya segmentasi lembaga pendidikan yang berdasar pada perbedaan agama, etnis dan bahkan perbedaan kemampuan baik fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. Segmentasi lembaga pendidikan telah menghambat para siswa untuk dapat belajar menghormati realitas keberagaman dalam masyarakat.
Selama ini anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yang disebut dengan sekolah luar biasa (SLB). Secara tidak langsung sistem pendidikan SLB telah membangun tembok ekslusivisme bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Tembok tersebut selama ini tidak disadari telah menghambat proses saling mengenal antara anak-anak difabel dengan anak-anak non-difabel. Akibatnya dalam interaksi sosial di masyarakat kelompok difabel menjadi komunitas yang teralienasi dari dinamika sosial dimasyarakat. Sementara kelompok difabel sendiri merasa keberadaannya bukan menjadi bagian yang integral dari kehidupan masyarakat disekitarnya.
Gagasan PAUD Inklusi
PAUD inklusi adalah PAUD yang mengoordinasi dan mengintegrasikan anak PAUD dan anak penyandang cacat dalam program yang sama awal dari mempersiapkan pendidikan bagi anak penyandang cacat yang mempunyai kemampuan di atas anak-anak di fabel lainnya. Pentingnya pendidikan inklusi tidak hanya memenuhi target pendidikan untuk semua tetapi juga pendidikan dasar. Hal ini banyak keuntungannya, tidak hanya memenuhi hak-hak asasi manusia dan hak-hak anak tetapi lebih penting lagi bagi kesejahteraan anak, karena pendidikan inklusi mulai dengan merealisasikan perubahan keyakinan masyarakat yang terkandung akan menjadi bagain dari keseluruhan. Dengan demikian, anak akan merasa tenang, percaya diri, merasa dihargai, dilindungi, disayangi, bahagia dan bertanggung jawab. Inklusi terjadi pasa semua lingkungan sosial anak, pada keluarga, kelompok teman sebaya, sekolah, institusi-institusi kemasyarakatan lainnya.
Pengelolaan PAUD Inklusif
Mengelola PAUD inklusif dituntut untuk memiliki kepekaan yang super terhadap elemen-elemen yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang ABK, elemen pendukung hal tersebut antara lain:
1.      Keluarga ABK            : Ayah, Ibu serta anggota keluarga yang lain.
Ada beberapa sikap keluarga dalam mengahdapi ABK, tidak sedikit keluarga yang menganggap kelahiran ABK sebagai aib keluarga, yang perlu untuk dirahasiakan, disimpan rapat-rapat, bahkan terkadang terbesit keinginan agar mereka segera menghilang entah kemana. Ada juga keluarga yang bisa menerima mereka, tetapi tidak tahu harus berbuat apa, mereka hanya sekedar diberi makan dan minum, dirawat apa adanya seolah-olah hanya karena kewajiban merawat sembari menunggu waktu datangnya penggilan kembali ke alam sebelum ia dilahirkan. Ada segelintr keluarga yang bisa menerima kehadiran mereka sebagai anugrah, sebagai manusia yang juga memiliki kelebihan disamping keurangannya. Mereka di didik dengan layak, tumbuh kembangnya diperhatikan dengan seksama. Sehingga sering kali terukti, mereka adalah anak-anak yang luar biasa, yang memiliki kelebihan super dan mampu melewati kemampuan manusia normal pada umumnya.
2.      Lingkungan Biotik      : Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah
A.    Lingkungan sekitar Rumah
Interaksi dengan tetangga perlu dibangun penyandaran tentang arti kehadiran ABK di dunia ini. Sikap orangtua dan anggota keluarga juga ikut menentukan sikap lingkungan/tetangga terhadap ABK. Keluarga yang bersikap wajar dalam memperlakukan ABK, tanpa ada perasaan canggung dan takut dicemooh akan lebih dihargai oleh lingkungannya dari pada keluarga yang selalu bersikap curiga dan takut dicemooh oleh tetangganya.
B.     Lingkungan sekitar Sekolah
Lingkungan sekitar sekolah perlu disiapkan untuk menerima kehadiran ABK, tumbuhkan empati yang menganggap bahwa ABK sebagai bagian warna-warni kehidupan mereka. Interaksi antar wali murid harus dibangun sebagai pola interaksi yang positif, saling mendukung dan memotivasi. Bukan interaksi negatif terselubung dengan ungkapan dan tatapan penu rasa kasihan melihat ketidak sempurnaan ABK. Interaksi anatar murid ini harus dibangun dengan pola interaksi yang slaing menyayangi, menghargai dan juga berkompetisi sesuai dengan kemampuan mereka.
Lingkungan Abiotik    : Lingkungan sekolah dan lingkungan rumah
Tenaga Pendidik         : Kepala PAUD, guru pendamping khusus, guru kelas.
3.      Program pembelajaran khusus untuk ABK.
Menurut Pasal 129 ayat:
(1)   Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan bagi pesarta didik yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran, karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan sosial.
(2)   Pendidikan khusus bagi anak peserta didik berkelainan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal sesuai kemampuannya.
Anak berkebutuhan khusus (special need) merupakan anak yang terlahir ataupun tumbuh dan berkembang dengan berbagai kekuarangan, baik fisik, mental, maupun inteligensi. Salah satu kelompok yanga paling tereksklusi dalam memperoleh pendidikan adalah siswa penyandang cacat.
Pasal 29 ayat:
(3)   Peserta didik yang berkelainan terdiri atas peserta didik yang:
a.       Tunanetra,
b.      Tunarungu,
c.       Tunawicara,
d.      Tunagrahita,
e.       Tunadaksa,
f.       Tunalaras,
g.      Kesulitan belajar,
h.      Lamban belajar,
i.        Autis,
j.        Memeiliki gangguan motorik,
k.      Menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang dan zat adiktif lain, dan
l.        Memiliki kelainan lain.
(4)   Kelainan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat juga berwujud gabungan dari dua atau lebih jenis kelainan yang disebut tunaganda.
a.       Jenis Layanan Pendidikan
Penempatan anak berkebutuhan khusus disekolah inklusi dapat dilakukan dengan model seperti:
1.      Kelas reguler (inklusi penuh). Anak berkelainan belajar bersama anak normal lain sepanjang hari dikelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama.
2.      Kelas reguler dengan cluster. Anak berkelainan belajar bersama anak normal lain dikelas reguler dalam kelompok khusus.
3.      Kelas reguler dengan pull out. Anak berkelainan belajar bersama anak normal lain dikelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
4.      Kelas reguler dengan cluster dan pull out. Anak berkelainan belajar bersama anak normal lain dikelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.
5.      Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian. Anak berkelainan di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak normal lain di kelas reguler.
6.      Kelas khusus penuh. Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.
Model pelayanan pendidikan bagi anak dengan gangguan fisik dan inteligensi menjadi dua yakni sekolah khusus dan sekolah terpadu atau inklusi. Sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak-anak yang mengalami gangguan berat, ringan dan masalah penyerta intelektual seperti retardasi mental ataupun masalah gerak dan emosi. Sekolah inklusi diperuntukkan bagi anak tunadaksa dengan kondisi ringan dan tidak mengalami retardasi mental.
b.      Jenis Program Layanan Pendidikan ABK, yaitu:
1.      Kelas Khusus
Merupakan kelas yang didikuti oleh anak berkebutuhan khusus menggunakan pola pendampingan penuh (satu guru-satu murid) serta berada diruang khusus yang berada dalam lingkungan sekolah reguler.
Ada tiga model yaitu:
a.       bagi ABK memiliki gangguan perilaku. Model yang satu ini satu siswa dibimbing oleh satu guru di dalam ruang khusus.
b.      ABK belajar dalam kelas khusus bersama ABK lainnya dengan tetap mendapatkan bimbingan penuh (satu guru-satu siswa).
c.       ABK yang sudah mempu belajar dengan pola semi-klasikal dibimbing oleh GPK utama, akan tetapi masih tetap didampingi oleh guru pembimbing yang berfungsi sebagai shadow.
2.      Kelas Pra-klasikal
Beberapa ABK dengan kemampuan yang hampir sama belajar dalam satu rombongan belajar yang dibimbing oleh satu GPK dalam ruang sumber bersama dengan rombongan belajar pada bidang tertentu, seperti bermain diluar kelas, sentra bahan alam, sentra seni, sentra persiapan, sentrabalok, sentra agama untuk sentra peran (peran GPK diutuhkan sewaktu-waktu).
3.      Kelas Remedi
Kelas remedi adalah pengulangan pembelajaran tambahan yanga berupa terapi yaitu terapi wicara, okupasi, pedagogi, komunikasi, dan lain-lain.
4.      Kelas Pendampingan
ABK belajar bersama anak normal lain dikelas reguler sepanjang hari. Mereka dibimbing oleh guru utama sebagai penyaji materi, namun dalam kelompok ABK didampingi oleh GPK sebagai shadow.
5.      Kelas Pengayaan
Adapun yang dimaksud kelas pengayaan adalah siswa dengan kemampuan lain (normal) namun dalam bidang studi tertentu untuk kecerdasan dan keterbakatannya siswa ditarik ke ruang sumber dibimbing oleh GPK.
6.      Kelas Inklusi Penuh
ABK belajar sepanjang hari di kelas reguler menggunakan beban kurikulum yang sama tanpa ada pendampingan.
Kurikulum PAUD Inklusi
1.      Bagi siswa dengan layanan khusus menggunakan kurikulum modifikasi total dengan mengacu pada kurikulum TK luar biasa (TKLB) dan kurikulum reguler (sekolah biasa).
2.      Bagi siswa dengan layanan praklasikal menggunakan kurikulum reguler yang dimodifikasi (baik modifikasi waktu maupun material muatan).
3.      Bagi siswa dengan layanan remedi, pendampingan dan inklusi penuh menggunakan kurikulum reguler (umum).
4.      Bagi siswa dengan layanan pengayaan menggunakan kurikulum reguler yang dikembangkan. Metode pengajaran yang diterapkan sama dengan layanan kelas reguler, yaitu metode ceramah, penugasan maupun privat, yang membedakan adalah adanya guru pendamping yang keberadaannya menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan siswa.



DAFTAR PUSTAKA
Afandi, M., Latif, M., Zubaidah, R., & Zukhairina. (2013). Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Miller, Regina.(1996).The Developmentally Appropriate Inclusive Classroom In                 Early Education. USA : Delmar Publisher.
Essa, L.Eva.(2003). Introduction To Early Childhood Education,4th Edition            Clifton Park,NY : Delmar Learning,inc.

Comments

  1. Bagus juga pembahasannya,jarang ada yang buat pembahasan gini...

    ReplyDelete
  2. Bagusan min.. aku syukaa tulisannyaa

    ReplyDelete
  3. cukup bagus min, semoga bisa lebih kreativ lg supaya penbacanya tudak bosan min

    ReplyDelete
  4. Sangat bermanfaat sekali kontennya ya

    ReplyDelete
  5. Sangat menambah pengetahuan. Terima kasih ya

    ReplyDelete
  6. Makasih min sama infonya. Ditunggu ya min post selanjutnya.

    ReplyDelete
  7. Paten kali cukup paten paten kali. Semangat min!

    ReplyDelete
  8. Terima kasih postingannya, menambah wawasan saya mengenai pendidikan anak berkebutuhan khsusus

    ReplyDelete
  9. Postingannya menambah wawasan👍

    ReplyDelete
  10. Ohh gitu rupanya. Makasih informasinya :)

    ReplyDelete
  11. Tulisan and sangat bermanfaat untuk pendidikan kebutuhan anak usia dini!

    ReplyDelete

Post a Comment